Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi yang dipimpin Faisal Basri mengeluarkan 6 rekomendasi terkait kebijakan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Salah satunya meminta impor RON 88 (atau yang dikenal dengan nama Premium) dihentikan.
Bagaimana respons PT Pertamina (Persero)?
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, pihaknya setuju dengan rekomendasi tersebut. Namun, penghentian impor RON 88 harus bertahap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim Reformasi Tata Kelola Migas memang memberikan waktu paling lama 5 bulan sejak rekomendasi diterbitkan kepada Pertamina untuk menghentikan seluruh impor RON 88. Pasalnya, hanya Indonesia atau Pertamina saja yang masih menggunakan RON 88 di dunia ini. Sehingga diduga ada permainan kartel dalam penentuan harga RON 88.
"Karena sebagian besar produksi kilang Pertamina saat ini adalah Premium," tutur Bambang.
(rrd/hds)